Dasrial menjelaskan, satwa yang dikenalkan antara lain orangutan, buaya muara, rangkong, rusa sambar, serta berbagai satwa liar lainnya. Siswa juga diajak memahami dampak perburuan dan pembukaan lahan terhadap kelestarian habitat. “Sesi ini membuka wawasan, khususnya bagi siswa SD yang baru pertama kali mengunjungi kawasan konservasi,” ujarnya.
Usai pemaparan, peserta diajak menyusuri jalur konservasi sepanjang sekitar satu kilometer. Sepanjang rute, petugas menjelaskan peran pohon-pohon lokal, burung endemik, serta jejak satwa liar.
Puncak kegiatan diisi dengan penanaman pohon sebagai simbol pembelajaran konservasi. Setiap kegiatan melibatkan sekitar 100 bibit, antara lain balau merah (Shorea balangeran), durian (Durio zibethinus), gaharu tanduk (Aquilaria beccariana), nangka monyet (Artocarpus rigidus), dan jambu-jambuan (Syzygium pendens). Sejak program dimulai, total 2.480 pohon telah ditanam bersama para siswa.
“Shorea balangeran termasuk kategori Critically Endangered (CR) menurut IUCN, sementara jenis lainnya berfungsi sebagai pakan satwa liar di kawasan HCV,” jelas Dasrial.
Ia menambahkan, program ini tidak hanya menanamkan kecintaan terhadap lingkungan, tetapi juga menjadi sarana edukasi Environment, Health, and Safety (EHS), termasuk pemahaman keselamatan dasar dan perilaku hidup sehat. Selain itu, kegiatan ini melatih karakter kepemimpinan, kolaborasi, dan kreativitas siswa.
Program sekolah alam Wilmar menjadi pengalaman belajar berharga bagi anak-anak. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga merasakan langsung bahwa alam merupakan ruang belajar terbaik. “Setiap bibit yang ditanam menjadi simbol harapan tentang kesabaran, tanggung jawab, dan cinta terhadap bumi,” pungkas Dasrial.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
